Radang Amandel Atau Tonsilitis

“Kelereng Tenggorokan” yang Membengkak

Tidak sedikit jumlah operasi amandel yang dilaksanakan pada anak usia 3 tahun.

Tidak sedikit jumlah operasi amandel yang dilaksanakan pada anak usia   Radang Amandel Atau Tonsilitis

Tidak sedikit orang tua yang risau saat anaknya merasakan pembengkakan amandel (tonsillitis). Pasalnya, demam, sakit kepala, susah menelan, atau kehilangan suara ialah efek minimal yang dipastiikan diderita sang anak.

Yang membikin semakin situasi susah, karena pembengkakan amandel ini dapat gampang kembali terulang. Pilihan operasi pengangkatan amandel selanjutnya menjadi pertimbangan. Sayangnya, mitos soal operasi amandel masihlah kuat dipercayaii masyarakat.

Bahwa upaya itu justru akan melenyapkan imunitas tubuh. Benarkah demikian? Memang benar amandel berfungsi penghadang kuman supaya tak gampang masuk ke saluran pernafasan. Sayangnya, organ berukuran seperti kelereng yang terletak di belakang kiri dan kanan tenggorokan ini gampang terluka.

Fungsinya sebagai fi lter kuman justru tak jarang membikin keadaannya demikian. Masuknya mikro organisme (bakteri atau virus) yang menyerangnya. Apalagi bila virus mononucleosis atau bakteri Streptococcus pyogenes bersemayam di sana.

Peradangan dapat gampang berlangsung yang bukan tak mungkin mengusik saluran pernafasan. “Radang amandel juga seringkali tak sakit, namun amandel sudah berwarna merah,” ujar dr Agus Subagio Sp, THT dari Rumah Sakit Puri Indah, Jakarta.

Pembesaran amandel tak selalu karena infeksi (karena kuman), namun sejumlah pasien yang mengidap alergi yang mengakibatkan hidung mampet atau bernafas lewat mulut juga ialah situasi lain yang merangsang pembengkakan amandel.

Berdasarkan waktu berlangsungnya peradangan, tonsillitis dapat dibagi dua keadaan. Pertama, tonsillitis akut, di mana radang berlangsung kurang dari tiga minggu. Umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Kedua, tonsillitis kronis yang mempunyai frekuensi kambuh bisa mencapai tujuh kali dalam satu tahun atau 10 kali dalam dua tahun. Atau sedikitnya dapat berlangsung tiga kali dalam satu tahun selama tiga tahun berturut-turut.

Kondisi kedua ini yang dapat mengakibatkan penyumbatan saluran pernafasan. Gejala yang dirasakan penderita tonsillitis cukup beragam. Selain yang telah disampaikan di atas, dapat berupa tenggorokan terasa kering, fl u, pilek, mual, sekitar leher terlihat bengkak, dan bau mulut.

Bila tak segera ditangani dapat memunculkan berbagai macam komplikasi, seperti infeksi telinga dan sinus atau abses (pembengkakan bernanah) pada tenggorokan.

“Sedangkan gejala pada anak biasanya diikuti dengan obstructive sleep apnea (OSA/masalah dan kesusahan tidur), misalnyanya tidurnya mendengkur, henti nafas yang diikuti tersedak, ngompol, dan gang- guan tingkah laku,” tambah Agus.

Bila hal tersebut yang berlangsung maka mutu tidur anak tak tertinggi. Meski durasi tidurnya panjang, namun anak tak fi t atau bugar saat bangun. Pasalnya, OSA berlangsung karena aliran oksigen yang masuk ke dalam paru-paru tak sepadan dengan kebutuhannya. Gangguan tidur ini juga, tambah Agus, dapat menghambat perkembangan anak.

Pasalnya, buruknya mutu tidur seorang anak tak dapat mengoptimalkan pelepasan hormon perkembangan dan recovery sel yang semestinya dapat berlangsung sempurna saat tidur. Bertahap Penanganan tonsillitis dapat dilaksanakan berangsur-angsur.

Mulai terapi antibiotik yang berguna untuk mematikan bakteri/virus yang menyerang. Sedangkan bila tonsillitis muncul dengan frekuensi seringkali dan mengakibatkan peradangan yang parah dan diperkirakan dapat mengusik saluran pernafasan atau mengusik makan, maka perlu ditempuh dengan operasi pengangkatan.

Menurut American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery, kriteria operasi amandel terbagi dua, yakni kriteria mutlak operasi dan kriteria cenderung (dipertimbangkanlah). Kriteria mutlak operasi di antaranya, telah berlangsung pembesaran tonsil mengakibatkan sumbatan jalan nafas, susah menelan, masalah tidur, atau komplikasi jantung dan paru-paru akibat infeksi bakteri streptococcus.

Lalu terkandung bisul ukuran besar di daerah sekitar tonsil yang tak bisa diobati dengan pengobatan atau drainage (pengaliran nanah), dan telah mengakibatkan kejang demam.

Sedangkan kriteria cenderung operasi, misalnyanya infeksi tonsil sedikitnya 5-7 kali dalam setahun dan kerap kambuh walaupun diobati, mengakibatkan bau mulut, bakteri/virus yang sudah tak mempan lagi dengan obat, pembesaran tonsil yang diduga tumor atau kanker.

Mitos Usia Lalu, bagaimana dengan mitos seputar paska operasi amandel? Yang pastii, kata Agus, pengangkatan amandel sama sekali tak usia.

“Dulu, anak dianggap mesti besar dulu, usia 6-7 tahun. Tapi kita sejumlah kali pernah melaksanakan operasi anak tiga tahun dan tak ada masalah,” ujar dia.

Selama ini, dalam catatan medis mengatakankan bahwasanya kecenderungan turunnya angka operasi amandel bukan karena ditinggalkan. Namun karena obat-obatan pereda tonsillitis, khususnya antibiotik semakin baik mutunya. _
nala dipa

Sumber: Koran Jakarta, 3 April 2011

Linked Posts:
Tonsilitis Atau Radang Amandel | Polip Hidung | Sinusitis | Penyakit Radang Tenggorokan

0 Response to "Radang Amandel Atau Tonsilitis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel