Jumlah Penderita Kanker Payudara 1/10 Wanita

 Artikel Informasi   Jumlah Penderita Kanker Payudara 1/10 Wanita
Ilustrasi
Artikel Informasi (KIA) Jumlah Penderita Kanker Payudara 1/10 Wanita - Satu dari 10 wanita diperkirakan menderita kanker payudara, yang diakibatkan oleh gaya hidup modern. Kanker payudara ialah kanker kedua terbanyak di Indonesia, sesudah kanker serviks.

Prof Tan Yah Yuen dari Singapura mengatakankan, pendekatan baru operasi kanker payudara termasuk pengangkatan payudara dengan mempertahankan puting susu. Konservasi payudara ini dimungkinkan dengan bantuan pemeriksaan Sentinel Lymph Node, mempergunakan gamma kamera SPECT yang bisa secara pas melihat penyebaran sel kanker di kelenjar getah bening yang terjangkit saja. Fasilitas ini sudah tersedia di RS MRCCC Siloam Jakarta.

Hal ini terungkap dalam Simposium Penanganan Terkini Kanker Payudara, Hati dan Usus Besar. Acara ini diprakarsai RS MRCCC Siloam sebagai perwujudan nyata komitmen MRCCC Siloam ngasih pelayanan kesehatan yang baik untuk penanggulangan penyakit kanker. Jika ditangani dan diobati semenjak dini, akan ngasih harapan hidup yang lebih baik. Disebutkan, deteksi dini pada kanker payudara termasuk screening dengan USG, mamografi, MRI payudara, biopsi, endoskopik breast surgery, image guided non surgical ablation untuk kanker ukuran kecil, perlu dilaksanakan untuk penanggulangan kanker semenjak dini.

Simposium yang ngasih nilai tambah bagi praktisi kanker ini, mengtibakan sekitar 50 pakar kanker international, President World Gastroenterology Organibahanion Prof. G.N.J Tytgat MD PhD dari Belanda; Prof. Harald J. Hoekstra MD, PhD - Profesor Surgical Oncology dari UNMCG Netherlands, dan Prof. Eisuke Fukuma MD PhD – Director of Breast Cancer, Kameda Medical Centre Jepang, dan pakar bedah kanker national Dr. Samuel Haryono SpB Onk (K).

Dalam simposium ini, ditampilkan juga Oncoplastic Surgery pada pasien kanker payudara oleh Dr. Samuel Haryono SpB Onk (K) bersama Prof. Eisuke Fukuma MD PhD, yang direlay secara live dari ruang operasi RS MRCCC untuk dilihat 200 peserta dokter ahli bedah dan internist dari semua rumah sakit dan fakultas kedokteran dari semua Indonesia.

Hal lain yang diangkat sebagai topik dalam simposium dan workshop tiga hari ini ialah kanker hati dan usus besar.

Menurut Prof Pierce Chow, Asia Pasifik menanggung beban 70 persen dari semua insidens kanker hati (liver) dunia, diakibatkan penyakit hesari pati patitis viral kronis dan Hesari pati patitis B (peradangan kronis pada jaringan hati karena diakibatkan oleh virus). “Namun secara kesemuaan, cuma 5-15 persen dari pasien yang terdiagnosis menderita kanker hati dapat menjalani operasi pengangkatan kanker, karena adanya fungsi hati yang sudah menurun atau adanya sirosis hati," tambah dr Irsan Hasan.

Pada pasien kanker hati yang tak bisa menjalani operasi pengangkatan kanker, dapat dilaksanakan metode ablasi lokal (dengan Percutaneus Ethanol Injection [PEI], Microwave Coagulation Therapy [MCT], dan Radiofrekuency Ablation [RFA]). Yang dimaksud dengan Microwave Coagulation Therapy ialah memanaskan sel tumor hingga suhu 600 sehingga sel tumor tersebut mati.

“TACE (Trans Arterial Chemo Embolibahanion) dipergunakan sebagai terapi tambahan pada penderita kanker hati yang bersifat minimal invasif. Tujuan dilaksanakan terapi ini ialah mengecilkan sel tumor, menambah mutu hidup dengan pemberian kemoterapi dan menutup pembuluh darah yang memberi makan sel tumor," ungkap dr. Soewandi A.H dari RS MRCCC Siloam Jakarta.

Pencegahan berlangsungnya kanker hati pada seseorang, yakni dengan imunisasi rutin hesari pati patitis B, pemeriksaan AFP, USG perut, diagnosis dini dan pengobatan dini hesari pati patitis B. bersama adanya diagnosis dini dan pengobatan dini hesari pati patitis B, akan memperpanjang survival dan memungkinkan deteksi dini kanker hati. Kanker hati yang terdeteksi dini akan mempunyai tingkat kesembuhan yang lebih tinggi.

Kanker Colorectal (usus besar) diakibatkan antara lain: factor keturunan (genetik), adanya riwayat sebelumnya pasien menderita tumor jinak pada usus besar, pasien yang menderita peradangan usus (Inflamantory Bowel Disease), selain itu diet dan terpaan terhadap bahan-bahan tertentu saja megampangkan dalam timbulnya kanker pada seseorang.

“Semakin dini ditemukan jaringan kanker, keadaan ini ngasih hasil akhir yang lebih baik bagi pasien, serta menurunkan tingkat kematian pada pasien. Metode-metode yang dipergunakan untuk deteksi dini kanker usus besar, di luar biopsi, antara lain: endoskopi, chromoskopi, endoskopi autofluorescent, narrow band imaging, dan endomicroscopy," jelas Emer Prof GNJ Tytgat, President World Gastroenterology Organibahanion dari Belanda.

"Terapi dari kanker usus besar ini ialah operasi terbuka, operasi laparoskopi (operasi dengan mempergunakan fiber optik yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Operasi ini memungkinkan irisan pada kulit yang lebih sedikit dan tingkat perawatan di rumah sakit lebih singkat), kemoterapi, dan terapi target," kata dr Errawan R. Wiradisuria.

“Kesuksesan pengobatan dan terapi kanker tentu sajanya ditopang olehalat kesehatan mutakhir. RS. MRCCC Siloam telah mempunyai alat LINAC IX untuk radiotherapy sari pati patient kanker dengan tehnology IMRT, yang memungkinkan radiasi yang pas sasaran pada sel kanker, ditunjang PET/CT sebagai tekhnologi mutakhir dalam mendeteksi kanker. Ini berperan besar dalam menentukan staging awal penyakit kanker serta evaluasi kesuksesan terapi (baik chemo, radiasi dan bedah). Hal lain, PET/ CT dapat juga untuk menilai kekambuhan / metastase ( penyebaran ) sel kanker dalam tubuh," demikian Dr Eko Purnomo SpKn dan Hanny Moniaga, CEO RS. MRCCC Siloam - Jumlah Penderita Kanker Payudara 1/10 Wanita.

0 Response to "Jumlah Penderita Kanker Payudara 1/10 Wanita"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel